Premarital Sex and the Risk of Divorce

 

 “Premarital Sex and the Risk of Divorce”

 Jurnal Re-Examining the Link Between Premarital Sex and Divorce & Abstinence from Premarital Sex: A Precursor to Quality Relationship and Marital Stability in Subsequent Marriage in Nigerian Society

Resume by Fathina Windi A

 

- Hipotesis :

1. Aktivitas romantisme pranikah tidak berpengaruh signifikan terhadap stabilitas perkawinan dan kualitas hubungan perkawinan orang yang menikah.

2. Seks pranikah tidak berpengaruh signifikan terhadap stabilitas perkawinan dan kualitas hubungan perkawinan orang yang menikah

- Kesimpulan :

Studi ini mematahkan anggapan umum di kalangan generasi muda bahwa keintiman dalam hubungan romantis sebelum menikah dapat meningkatkan persahabatan dan kecocokan yang penting untuk meningkatkan kualitas hubungan dalam pernikahan berikutnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang melakukan aktivitas seks pranikah mengalami hubungan perkawinan atau pernikahan yang lebih rendah dibandingkan dengan individu yang tidak melakukan aktvitas seksual pranikah.

Penelitian ini mematahkan anggapan umum dikalangan generasi muda bahwa keintiman hubungan romantis dapat meningkatkan hubungan/ikatan yang lebih dalam terhadap pasangan. Atau dengan kata lain untuk melihat cocok atau tidaknya terhadap pasangan.

Studi ini menunjukkan hasil pengaruh yang signifikan antara perilaku seks pranikah terhadap stabilitas terhadap pernikahan. Dimana pasangan yang tidak melakukan hubungan seks pranikah memiliki kualitas hubungan yang lebih baik dibandingkan pasangan yan melakukan hubungan seks pranikah.

Seks pranikah memberikan ruang bagi perbandingan seksual karena pasangan harus mempunyai pengalaman hubungan seksual dengan satu atau lebih individu sebelum menikah. Hal ini dapat menimbulkan rasa ketidakpuasan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hubungan pasangan. Seks pranikah juga dapat menimbulkan rasa bersalah pada salah satu atau kedua pasangan nikah yang dapat berdampak buruk pada kualitas hubungan perkawinan.

Paik (2011) menunjukkan bahwa dampak buruk  aktivitas seks pranikah berdampak terhadap  stabilitas perkawinan. Fakta bahwa mereka yang melakukan hubungan seks lebih awal lebih cenderung memiliki pasangan seksual pranikah selain calon pasangannya. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa seks pranikah memprediksi perceraian.

Rosenfeld & Roesler, 2019; Sassler & Lichter, 2020). Seks pranikah mungkin merupakan indikator sikap permisif terhadap seks dan pernikahan, rendahnya religiusitas, atau kecenderungan terhadap variasi seksual, yang semuanya terkait dengan risiko perceraian yang lebih tinggi.

 (Kahn & London, 1991; Paik, 2011; Vaaler, Ellison, & Powers , 2009). Dalam kasus ini, kaitan perceraian seks pranikah paling baik dijelaskan dengan adanya perbedaan yang sudah ada di antara individu. Alternatifnya, pengalaman seks pranikah itu sendiri, terutama dengan berganti-ganti pasangan, dapat berkontribusi pada pengembangan sikap yang lebih permisif terhadap seks atau kesadaran yang lebih besar terhadap alternatif seksual, yang salah satunya dapat merusak stabilitas perkawinan.

Faktor Kehidupan Awal dan Karakteristik Pribadi. Seperti disebutkan di atas, para peneliti di masa lalu berpendapat bahwa hubungan antara seks pranikah dan perceraian paling baik dijelaskan oleh keyakinan dan nilai-nilai tentang seks dan pernikahan, rendahnya religiusitas, atau preferensi terhadap variasi seksual (Kahn & London, 1991; Paik, 2011).

Penelitian sebelumnya masih belum jelas mengenai apakah dampak seks pranikah terhadap risiko perceraian mungkin lebih kuat pada pria atau wanita. Laki-laki mempunyai preferensi yang lebih kuat terhadap frekuensi dan variasi seksual, dan perilaku seksual perempuan terikat lebih kuat pada hubungan tertentu (Baumeister, Catanese, & Vohs, 2001; Wells & Twenge, 2005)

Seks memiliki konsekuensi buruk yang lebih kuat terhadap kesehatan mental dan emosional bagi perempuan dibandingkan laki-laki (Regnerus & Uecker, 2011; Townsend & Wasserman, 2011)

Booth & Johnson (1988) serta Cohan & Kleinbaum (2002), bahwa pasangan yang melakukan hubungan seks pranikah berdasarkan perjanjian hidup bersama sebelum menikah cenderung menunjukkan tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah dibandingkan pasangan yang tidak melakukan hubungan seks pranikah.

Teachman (2003) menyatakan bahwa wanita yang memiliki lebih dari satu hubungan intim pranikah memiliki peningkatan risiko perceraian. Meskipun mungkin ada hubungan langsung antara seks pranikah dan kualitas dan stabilitas perkawinan, pengaruh signifikan dari seks pranikah terhadap kualitas  stabilitas perkawinan mungkin disebabkan oleh beberapa konsekuensi tidak langsung dari seks pranikah.

(Alo, 2008; Alo dan Akinde, 2010). Menyatakan bahwa, aktivitas seksual pranikah bisa menimbulkan rasa bersalah karena tidak menjaga kesakralan seks dalam hubungan pernikahan. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap perilaku pasangan dan juga kualitas pernikahan serta stabilitas pernikahan merek.

Jesse smith & Nicholas CH (2023) Journal of Family Issues menyatakan bahwa, mereka yang memiliki satu hingga delapan pasangan juga mempunyai risiko perceraian yang lebih besar, meskipun koefisien ini lebih lemah dibandingkan mereka yang memiliki sembilan pasangan atau lebih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

does knowing me more lead to loving me less?

9/15/2024

How Most Men Think They Don’t Deserve Love Just Because they are Financially Unstable