Marriage is Scary? About Prespective as a Women
In my 20s era, sebagai seseorang perempuan yang tumbuh dan hidup di Indonesia, apalagi selalu dibarengi dengan stigma-stigma itu, pikiran-pikiran jelek yang terus menghantui. Berita selingkuh dimana-mana, kekerasan dalam rumah tangga (kdrt), tidak diberikannya hak sebagai istri dan lain sebagainya. Tentunya mendengar kata "menikah" saja membuat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan 'what if?' yang muncul di kepala.
What if romance dies between us?
What if i'm not enough for my husband no matter how much love i pour into us?
What if i'm not enough for my husband no matter what im trying?
What if one day we wake up as a stranger?
What if he no longer sees me as the person he once loved?
What if I married the wrong person?
Menurutku ketakutan-ketakutan diatas wajar aja dialami sebagai seorang perempuan yang nantinya juga akan menikah dan berumah tangga. Mendengar banyak berita yang seliweran betapa "meruginya" wanita setelah menikah dan berumah tangga. Apalagi jika dihadapkan perceraian, tidak hanya rugi atas materi, namun juga fisik dan mental.
Aku bertanya-tanya...... is marriage worth all the risk?
i'm literally young-adult women, masih bingung dan terlihat samar bagiku mendengar sebuah kata "pernikahan". Menurutku pernikahan adalah sebuah kesepakatan bersama, ibarat mengemudikan pesawat terbang. di awal perjalanan akan ada rasa antusiasme dan semangat untuk lepas landas menuju sebuah destinasi yang sudah direncanakan sejak awal. Namun, setelah memulai perjalanan mungkin merasakan guncangan dari cuaca yang tak menentu, hingga masalah yang tidak terduga. Tentunya selama momen ini dibutuhkan sebuah ketenangan untuk menghadapi sebuah masalah.
Menurut aku pernikahan bukan hanya menyatukan segala sesuatu yang berbeda menjadi selaras atau serupa, melainkan belajar tentang bagaimana menyikapi sebuah perbedaan, ada sebuah irama dan harmoni yang bisa ditemukan dari kedua belah jiwa. Menurutku, pernikahan juga bukan hanya untuk terus memaksa berjalan beriringan satu sama lain. Melainkan untuk berkompromi, menemukan sebuah titik untuk selalu memilih "kita" bukan diri sendiri. Bahwasanya pernikahan memang tidak selalu mulus dan mudah, banyak ujian, tantangan sampai jurang yang harus diikuti. Sehingga, kedua belah pihak dapat terus melihatnya sebagai tekanan yang membuat perjalanan terseut menjadi lengkap dan menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar